itu pesannya…entah apa yang ada dibenaknya hingga muncul permintaan ‘tak biasa’ seperti ini. any way…here’s we go..!!
Hari H min-3
Sabtu 29 Agustus 2009 ada hajatan akbar di Balairung UI Depok. Wisuda Magister, Spesialis dan Doctor. Wisudanya S1 dan D3 dua hari sebelumnya, Kamis dan Jumat. Acaranya dimulai jam Sembilan, tapi wisudawan diminta hadir jam 7 pagi…**..wadezigh..**
Kebayang deh, cewe-cewe pada ke salon pagi-pagi … kyaaaa… para kepster pada lembur. Eh, tapi apa iya bisa disebut lembur kalo overhour-nya sebelum jam kerja. Heemmm… nanti tanya sama kepster aja deh.
Kebayang lagi, hari itu parade gaun kebaya berwarna warni dan yang stelan jas elegan… eye shadow, bulu mata palsu, blush on, sandal dengan hak 5 cm atau lebih. Semua tiba-tiba berubah menjadi cantik dan tampan. Tapi kan, selama acara berlangsung dan bahkan sebelum dan sesudah acara selesai, para wisudawan mengenakan toga kebesaran terus-menerus.
Toga kebesaran karena memang ukurannya memang berlebihan. Di bagian lengan kana ada dua garis pita berwarna yang disesuaikan dengan warna fakultas masing-masing. Kuning-merah-abu-putih-orange-coklat-biru-hijau. Dua garis untuk Magister, Spesialis dan Doktor. Satu garis untuk S1 dan polos tanpa garis untuk D3. Warna-warna itu juga diberlakukan untuk sampul skripsi/tesis lho. Sungguh, kampusku berwarna sekali. Seperti pelangi.
Seharian pake toga (kebesaran) gak keliatan dong kebayanya. Gak keliatan dong setelannya. Padahal… itu sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, lho. Bahkan ada yang rela merogoh kocek untuk busana di hari H.
Haduuuhh… repot ya.
3 Tahun yang lalu
“Kamu kenapa gak sekolah lagi ? Keluar negeri aja” si BOS bertanya padaku. Aku hanya bisa nyengir cengengesan. Sekolah lagi ? Keluar negeri pula ? Alamaak…onde mande… Duit dari hong-kong ? Boro-boro kuliah keluar negeri, nyari beasiswa aja kagak ada yang nembus. Rejected..!! Tampang seperti ini masih kurang meyakinkan buat minta beasiswa ** .. sigh..**
Sehari – dua hari, masih bisa nyengir ngadepin pertanyaan kayak gitu. Sebulan – dua bulan, jengah juga. Setahun kerja di tempat BOS tiba-tiba…Alhamdulillah, ada rejeki. Dana asuransi ayahku, cair. Mendaftarlah aku ke kajian kependudukan dan ketenagakerjaan. Selain karena SPP paling murah (5,1 juta per semester saat itu) juga karena kajiannya sesuai dengan bidang pekerjaan yang sekarang aku tekuni.
Kalau ada yang bertanya, kenapa kuliah lagi ? Ini jawaban terjujur yang aku miliki “Biar gak dicerewetin si bos lagi”. Capek juga saban hari diteror dengan pertanyaan seperti itu. Sekolah teh, mahal ibu. Saya teh, orang miskin. Buat sekolah teh, itu kebutuhan tersier. Tapi demi untuk membungkam terror ibu terhadap saya, akhirnya saya belanjakan uang asuransi itu untuk mendaftarkan kuliah di Pasca Sarjana UI Depok. Ffiuuhh… tapi ternyata derita belum berakhir, saudaraku. Derita itu baru saja dimulai.
Semester pertama berjalan lancar.
Liburan semesteran aku dipanggil personalia. Ada surat tambahan kontrak pegawai. Bah..!! Sudah lebih setahun aku kerja di perusahaan ini dan sudah berstatus pegawai tetap. Kontrak tambahan apa pula ini, tanyaku. Salah satu klausul dalam kontrak menyatakan bahwa diriku terikat pada perusahaan selama 1 ½ kali masa studi terhitung sejak kelulusan. Apabila diriku mengajukan pengunduran diri selama masa tersebut, diriku tidak berhak atas dana pengabdian atau pesangon.
Nasib jadi pegawai.
Uang kuliah = bayar sendiri. Pontang panting cari duit untuk 5,1 jt per enam bulan.
Setiap kali berangkat kuliah (kuliah jam 4 sampai jam 7 sore) = gaji dipotong karena keluar kantor lebih awal.
Ditambah lagi klausul kontrak tambahan itu.
Berat gak sih ?
Gaji bukannya besar. Sekedar nutup buat bayar kontrakan, asuransi, henpon, dan ongkos ke kantor (masih harus dipotong pula karena berangkat kuliah jam 3 sore a.k.a. kerjanya kurang dari 8 jam). Sisanya ? Kadang makan, kadang nggak. Hahaha…macam Hamdan ATT saja aku ini. Pagi makan, sore tiada, sya..lala..lala..lala..
Kadang kepikiran juga. Seandainya, dulu gak daftar kuliah. Kan bisa ngerasain punya duit banyak. Trus gak pake potong gaji. Trus gak kena kontrak tambahan. Tapi kan sudah berlalu. Pelajaran yang bisa dipetik adalah PENDIDIKAN ITU MAHAL, JENDRAL..!! Orang miskin gak bisa pintar, maklum saja. Toh, pendidikan itu adalah “mewah”.
Hari ini
Alhamdulillah…
Terima kasih sahabat, teman… yang selalu ada berjalan berdampingan. Bergandeng tangan…
Endang – Gujet – Trismiasari, Charoline – Olin – Dewi Virasari, Veny – Nie – Budiany, Ismiaty – Ismi – Farahnasy, Astri – Aci – Yuniarti, Mariana – Maria – Silitongan, Fitranita – Era, Eviaty – Evi – Adawiyah, Verania – Vera – Verawati, Atiek Widyowati, Deny Irawan Derajat, Rizqon Syah, Fajar Sasono, Yuniarti – Mbak Yuni – Purwandini, Sandra – Mbak Sandra – Endah, Endang – Mbak Endang – Sulastri, Swastika Andi – Mas Andi – Dwi Nugroho, Evelyn – Mbak Eve – Suleeman, Pak Paimin, Ratih Nokowati, Purwadi – Ipunk, Pak Taufik, MOG, PG, Nia Anasi – Mbak Nia – Ch Yuniati, Hendro, Warsino – The tukang ojek –, Mas Salim – bapak kost (maap sering nunggak kontrakan), Silva Anggraini (gak jadi dikawinin, Sil ?), Deden – Kang Den – Ahmad Suhendar , Dodie – Kang Dod – Chanadi, Patria – Ary – Novari (mengaku anak kriminologi, cerewet bukan kepalang), Dodoy D’Moro – yang menanti cangkir keempat, Dessy – Echi dan Bang Daus, Adfa Tegak Ramadhan (yang sedang belajar ikhlas), Benny – Bentos – Santoso, Desti Fitriani – kau di Jerman sana, aku di Depok sini, Donny Dafza ( yang pengen sholat sebelum disholatkan), Winston Zippi Yohanes ( yang konsisten dengan pose yang itu-itu saja), Yesi Oktavia, Pak Slamet, Ibu Ratih, Pak Isno … (bersambung … tanpa batas waktu yang ditentukan)
emg mb sofa ga cari beasiswa S2?
btw
commentQ yg kmaren lom di jawab mba….
ini arin ya? sori..aku temen kuliahnya deny, di magister demografi, alhamdulillah…dah selesai
aku gak kenal dekat ama deny, cuman kenal aja, kan teman kuliah
arin gimana kabarnya?
cerita_nya deh mba…..
yach bgitu deh
perjuangan menuntut ilmu.
mba sofa kenal deket ya
ma kak deny irawan derajat?
mhn dijawab