Salah siapa kalau sampai sekarang aku masih jomblo.
Dipenghujung era keemasan usia 20-an, aku masih saja melalui hari-hari indah sendiri. Tak sepenuhnya benar, karena aku punya teman-teman terkasih, yang karena mereka lah aku mampu terus bertahan menjadi AKU. Tak cukup kebanggaan atas apa yang aku peroleh hingga detik ini, tapi AKU SANGAT BERBANGGA atas kehadiran teman-teman dalam hidupku.
Salah siapa kalau sampai sekarang gua masih jomblo.
Bukan salah siapa-siapa. Aku tak menyalahkanmu, aku tak menyalahkan dia, aku tak menyalahkan mereka, aku tak menyalahkan aku. Tidak ada salahnya.
“Kamu terlalu banyak memilih, sih”
Pilihan, ya. Tentu saja aku memilih. Laki-laki pilihanku adalah :
1. Dia lelaki sejati. Bukan banci.
2. Dia muslim. Tak kan ku gadaikan posisi ‘imam’-ku hanya karena cinta.
3. Dia berusia lebih tua dariku. Jadi maaf, buat yang lahir setelah tahun 1980, tidak saya masukkan dalam daftar. Memang orang bilang, dewasa itu bukan karena usia. Tapi, sekali lagi maaf, secara insting saya akan memperlakukan laki-laki yang lebih muda dari saya sebagai ‘adik’.
4. Dia punya pekerjaan yang dia minati dan sukai. Laki-laki yang seperti ini, punya cita-cita, dia tau apa yang dia ingin capai, dia punya dedikasi. Jadi mohon maaf, bagi laki-laki pengangguran, tidak termasuk dalam daftar pilihan saya.
5. Dia tidak merokok. Gudby babay for smoke.
Jadi, SALAH BESAR kalau saya tidak memilih. Aku wajib memilih.
Salah siapa kalau sampai sekarang gua masih jomblo.
Aku, wanita single usia 29 tahun. Lahir dari seorang ibu yang sepanjang hidupnya mendedikasikan hidupnya dalam dunia pendidikan dan ayah yang pendiam dan pemalu pensiunan perusahaan gas dan minyak. Anak ke-3 dari 4 bersaudara yang sejak kecil sudah dibiasakan dengan ‘dunia perantauan’.
Banyak applaus yang aku terima untuk kisah hidup saya. Mereka salut, mereka bangga, mereka terpana, mereka terpesona. Bagiku, itu adalah agenda hidupku yang sudah tercatat dalam diary Azza wa jalla.
Menyelesaikan pendidikan sekolah dasar ditengah keluarga, merupakan masa-masa indah yang tak lagi bisa kumiliki saat ini.
Cukup 12 tahun aku merasakan perseteruan kakak-beradik karena seragam dan sepatu sekolah.
Cukup 12 tahun aku merasakan sapuan ijuk dipantatku karena susahnya bangun pagi untuk sekolah.
Cukup 12 tahun aku membuatkan kopi untuk ayah setiap dia berangkat kerja. Kopi buatanku enak katanya.
Cukup 12 tahun aku membuatkan es jeruk nipis kesukaan ayahku setiap kali dia pulang kerja.
Cukup 12 tahun aku berlari pulang dan masuk lewat pintu belakan karena mencium aroma tumisan kankung ibuku.
Cukup 12 tahun aku tinggak di rumah no 64 komplek PT Arun, Lhokseumawe. Aceh Utara.
Rumah dimana aku dilahirkan.
Rumah yang aku sebut “pulang ke rumah” setiap harinya.
Setelah baligh, aku menetapkan pilihan. Sekolahku berjarak 1 malam perjalanan dari rumahku. Sebuah asrama berkamar 10 menjadi rumahku. Berbagi kamar dengan 20 anak puber dari berbagai daerah memenuhi kisah-kisah ku selama 6 tahun.
Aku bertemu ayah, ibu, kakak dan adik, cukup setahun sekali saja. Sekalinya, cukup seminggu saja.
Sederhana saja hidup dalam asrama. Tapi indahnya luar biasa. Sejak mulai menjadi adik kelas paling muda di kelas I hingga menjadi pengurus asrama di 2 tahun terakhir. Mengurus 100 anak bermacam karakter membuatku merasa menjadi ‘ibu’ bagi bocah-bocah kecil ingusan yang masih merengek rindu pulang. Tak ada hiburan televisi, tak ada kontaminasi gosip-gosip artis, tak ada virus-virus teknologi. Begitu sederhana dunia kecil kami.
Bercita-cita ingin merasakan status ke-mahasiswa-an, PMDK ditawarkan. GAGAL..!!
UMPTN pun di coba. GAGAL..!!
Datang berita, orang tua bercerai.
“Kalau mama pisah dengan ayah, gimana ?”. Belum genap 17 tahun usiaku dan aku bergetar. Aku tak pernah tahu apa yang terjadi di rumah, sementara rumahku adalah asramaku.
“Ma, apa mama suka bertahan dalam keadaan ini ? Kalau tidak, putuskanlah. Mama punya jalan kehidupan sendiri yang perlu mama jalani. Walaupun saya ini anak mama, saya tidak berhak mencampuri. Mama yang menjalani, mama yang merasakan. Saya tidak bisa merasakan apa yang mama alami.” Bahkan aku masih tak percaya kalimat itu bisa muncul dari gadis berusia 17 tahun.
Kenapa aku harus memaksa untuk mempertahankan yang tidak dapat dijalankan.
Kenapa aku harus menangis-nangis kehilangan.
Toh aku tidak kehilangan siapa-siapa. Mama tetap mamaku. Ayah tetap ayahku. Hanya saja, setiap kali aku pulang ke rumah, aku akan pulang ke 2 rumah, tidak 1 rumah.
GAGAL ? Tidak, tak ada yang gagal.
Tahun 1998 lulus dari SMA. Tak ada yang aku lakukan selain menghabiskan masa satu tahun penuh untuk bersiap mengikuti ujian masuk tahun berikutnya.
Pilihan pertama : Psikologi UNPAD. O,ya…aku sangat terterik dengan psikologi.
Pilihan kedua : Kedokteran UNSYIAH. Anggapanku, kampus ini punya rate yang lebih rendah karena lokasinya di daerah. (Akhirnya aku tahu ternyata aku salah.)
Pilihan ketiga : Kriminologi UI. Iseng aja, gak ada pilihan lain yang menarik minatku di ilmu sosial. Pilihan ini karena wajib ada di formulir IPC. Anggapanku kriminologi mirip dengan psikologi. (Dan sekali lagi aku salah)
Tahun 1999. 30 April. Koran pengumuman UMPTN. Aku lulus…!!! Untuk pilihan ke 3.
Semakin jauh perantauanku dari rumah. Sejak saat itu aku mengisi hari-hari di depok. Hingga tiba saatnya lulus pada tahun 2004.
Saat itu, lebaran terakhirku.
Saat itu, pertemuan terakhirku.
Saat itu, aku menanam pohon terakhir dengan ayahku dihalaman rumahnya.
Saat itu, aku mengurut jari kaki ibuku untuk terakhir kalinya yang terkelupas karena panasnya cuaca.
Saat itu, kali terakhir aku menimba air sumur untuk mandi nenekku.
Saat itu, tsunami menghantam duniaku tanpa aku didalamnya.
Hanya mereka.
Jasad nenekku ditemukan oleh pamanku.
Jasad ibuku ditemukan seminggu setelahnya tanpa dapat mengenalinya kecuali potongan pakaiannya.
Jasad ayahku, entah dimana. Jasad kakakku tak pernah ditemukan.
Tak ada nisan untuk ibuku. Tak ada kubur untuk ayahku. Hanya sebait al fatihah di setiap penutup dzikir sholatku.
Wisudaku tanpa ayah tanpa ibu. Saatnya aku menjadi perkasa. Saatnya aku menjadi petarung. Bertarung menghadapi ibukota agar tak tergilas. Aku sendiri, aku mandiri.
Salah siapa kalau sampai sekarang gua masih jomblo.
Banyak kehilangan yang aku alami. Tapi aku diganjar dengan apa yang aku ingini. Menjadi peneliti adalah minatku. Desember aku kehilangan, Januari aku jadi sarjana, Februari aku wisuda, Maret aku mendapatkan pekerjaan. Pekerjaan yang hingga kini masih aku lakoni, aku minati.
Sejak Desember hingga Maret, tak ada tetesan airmata yang membasahi hari-hariku. Tak perlu sedu sedan itu. Aku tak bisa membalikkan waktu, aku tak bisa teriak menghujat. Aku belajar ikhlas. Aku belajar tegar.
Namun hari itu, ketegaranku luruh. Wanita tua itu, pemilik perusahaan itu, si wanita besi, memandangiku dan memelukku. Tanpa kata. Tanpa suara. Dan aku menangis hingga sesak rasanya dada ini. Wanita itu bosku. Wanita itu bernama Mayline Oey-Gardiner.
Salah siapa kalau sampai sekarang gua masih jomblo.
Setahun aku bekerja, dia…wanita itu sedikit memaksaku untuk sekolah lagi. Kembali lah aku ke almamater dibawah naungan Pasca Sarjana Kependudukan menghabiskan masa 6 semester paling menyiksa. Menyiksa karena aku bukan orang BERADA seperti yang disebut-sebut oleh seorang teman untuk sekedar membayar uang Sumbangan Pembinaan Pendidikan. Hingga masanya selesai dengan title menyandang namaku masih menyisakan tumpukan kewajiban yang harus dilunasi.
Salah siapa kalau sampai sekarang gua masih jomblo.
Aku bekerja. Aku sarjana. Aku master. Aku mandiri. Aku sendiri.
Pria : wanita karir
Aku : nggak juga, terpaksa
Pria : kok terpaksa ? siapa yang maksa ?
Aku : kalo gak gitu, gak bisa bertahan hidup…jadi gembel. I’m a single fighter.
Pria : bagi orang pinter kan gak jadi masalah. mang mo sampe kapan single fighter ?
Aku : kau fikir aku pintar ? no..no..no..that’s wrong
Pria : kuliahmu sukses, kerja sukses, kan pasti pintar sayang
Aku : No..i dont think so. Masih banyak hal yang aku tak tahu
Pria : cari cowok biar tau, hahahah
Aku : kenapa ? kau mau daftar ?
Pria : ah, gak berani. gua minder ama elu
Aku : ya sudah. bukan salahku jadi jomblo kan
Salah siapa kalau sampai sekarang gua masih jomblo.
Thanks to :
Gujet a.k.a. Endang Trismiasari dan beberapa teman yang berusaha mencari keberadaanku saat aku menghilang setelah kejadian tsunami. Gua bener-bener gak tahu kalau kalian nyusul gua ke rawamangun.
Mayling Oey-Gardiner, thanks for the really big hug
sahabat-sahabat lain yang aku bahkan tak tau kalian sekarang ada dimana.