Bila kau lihat dia, mungkin kau tak menatapnya lama…
Tapi aku tak bosan memandang dia
Bila kau berpapasan dengannya di suatu tempat, mungkin kau akan mengacuhkannya…
Tapi aku berharap waktu bisa berhenti dan aku bisa terus bersama dengan dia
Tongkat bambu kecil digenggaman kanan memapah tubuh kurus tertatih dalam langkah kecilnya
Awalnya tak sabar langkah ini mendampingi langkahnya
Satu langkah ku berjalan…dia butuh tiga langkah untuk bisa mengejarku
Rasanya ada yang meleleh didada ini
“Adek jalan aja duluan” katanya. Aku tersenyum mendengar kepasrahannya itu. Tentu saja tak ku biarkan dia berjalan sendiri saja dengan bambu kecil itu. Tidak buruk rasanya jalan perlahan-lahan. Setiap langkah rasanya menjadi begitu berarti. Perlahan, tidak terburu-buru seperti biasanya aku melangkah.
Usianya masih begitu muda saat terkena serangan penyakit itu. Empat tahun lalu, jauh disana, dia terkulai dikursi roda selama satu tahun. Tak ada kabar, tak ada berita. Kegagahannya tak berbekas. Yang tersisa hanya tubuh kurus kering, tak berdaya, berjuang keras untuk melangkah walau tertatih, berusaha keras bisa mengangkat tangannya meraih kepala. Aku jadi ingat syarat jadul dari orang tua dulu. “Ma..Ma…sampai Ma” sambil tangan kiri meraih telinga kanan. Artinya sudah bisa masuk sekolah, sudah besar.
Dia, memulai semua dari awal lagi. Sedikit lagi tangan kirinya bisa mencapai telinga kanan. Dan itu artinya dia bisa naik tingkat. Lucu ya, bila hal kecil seperti itu dialami oleh kita mahluk dewasa. Rasanya ketidak berdayaan menghalangi semua impian, bahkan impian terkecil sekalipun.
Dulu, aku membayangkan bertemu seorang pangeran berkuda putih yang gagah, yang bisa menyelamatkan aku dari perompak dan melindungiku dari dinginnya malam. Itu pasti impian semua anak perempuan di dunia ini. Siapa yang tidak ?
Dia, kukenal dalam sempurnanya dan kutemui dalam ketidakberdayaan. Tak ada kuda putih,tak ada pedang, tak ada perisai. Hanya tongkat bambu kecil yang setia menemani langkah kecilnya. Menatapnya, aku sadar, dia tak butuh sayap untuk bisa membawaku terbang.
Dia, kucintai
Meski dia bukan pengeran seperti yang dikisahkan dalam dongeng pengantar tidur anak-anak perempuan
** Menjelang tidur, dalam sendiri aku berbisik “Ya Rabb, terimakasih, telah Kau kirimkan dia dalam hidupku dengan keindahannya sendiri. Ingatkan aku untuk selalu mensyukurinya, Rabb.”