sofamerah

Archive for April, 2010|Monthly archive page

Aku cemburu, itu pasti..!!

In Me and MySelf on 28 April 2010 at 3:41 am

Malaikat menjagamu sejak fajar hingga terbenam matahari, aku cemburu…
Malaikat mengantar setiap langkahmu di setiap Jumat, aku cemburu…
Malaikat berjajar dibelakang punggungmu di setiap pertiga malam, aku cemburu…

Lantas apa kau pikir aku mencintaimu ?
Yang aku tau, aku cemburu

Itu pasti..!!

21 Kalibata

In Me and MySelf on 28 April 2010 at 3:40 am

Semalam (22 April 2010) kali pertama menginjakkan kaki di 21 Mall Kalibata.
Memenuhi hasrat seorang teman, Mutia Ramadhanti Haflil yang menggonggong minta di traktir nonton.

Menimbang – besok masih harus masuk kerja

Memikirkan – Mau ke Pejaten Village, Mutia rada ribet pulangnya. Mau ke Semanggi, males macetnya.

Memutuskan – di Mall Kalibata aja. Pas ditengah-tengah. Pulang ke Bekasi jauh. Pulang ke Depok juga jauh. Fair dah.

Jam 5 tanggo waktu setempat (jam kantor)
Kucluk..kucluk..kucluk..
Meluncur ke lokasi.

Bioskop ada di lantai 2 (tapi Kalibata juga memang cuman 2 lantai bukan ??? )
Pintu masuk di jaga petugas lengkap dengan detektor. Belum cukup dengan detektor, petugas keamanan minta tas di buka. Memang sih, ukuran tas yang gua bawa lumayan besar. Bisa memuat dokumen ukuran A4 sekian jilid.

Kesan gua :

1. baru kali ini masuk 21 tas di suruh buka
2. naga-naga nya nih, petugas minta periksa tas buat nyari makanan-makanan yang diseludupkan

hahaha….

kalo gitu gua cuman bisa bilang

JANGAN PIKNIK DI 21 MALL KALIBATA –>> padahal kan gua demen bawa bekal buat nonton

— W A R N I N G —

DIA

In Dear Diary on 28 April 2010 at 3:39 am

Bila kau lihat dia, mungkin kau tak menatapnya lama…
Tapi aku tak bosan memandang dia
Bila kau berpapasan dengannya di suatu tempat, mungkin kau akan mengacuhkannya…
Tapi aku berharap waktu bisa berhenti dan aku bisa terus bersama dengan dia

Tongkat bambu kecil digenggaman kanan memapah tubuh kurus tertatih dalam langkah kecilnya
Awalnya tak sabar langkah ini mendampingi langkahnya
Satu langkah ku berjalan…dia butuh tiga langkah untuk bisa mengejarku

Rasanya ada yang meleleh didada ini

“Adek jalan aja duluan” katanya. Aku tersenyum mendengar kepasrahannya itu. Tentu saja tak ku biarkan dia berjalan sendiri saja dengan bambu kecil itu. Tidak buruk rasanya jalan perlahan-lahan. Setiap langkah rasanya menjadi begitu berarti. Perlahan, tidak terburu-buru seperti biasanya aku melangkah.

Usianya masih begitu muda saat terkena serangan penyakit itu. Empat tahun lalu, jauh disana, dia terkulai dikursi roda selama satu tahun. Tak ada kabar, tak ada berita. Kegagahannya tak berbekas. Yang tersisa hanya tubuh kurus kering, tak berdaya, berjuang keras untuk melangkah walau tertatih, berusaha keras bisa mengangkat tangannya meraih kepala. Aku jadi ingat syarat jadul dari orang tua dulu. “Ma..Ma…sampai Ma” sambil tangan kiri meraih telinga kanan. Artinya sudah bisa masuk sekolah, sudah besar.

Dia, memulai semua dari awal lagi. Sedikit lagi tangan kirinya bisa mencapai telinga kanan. Dan itu artinya dia bisa naik tingkat. Lucu ya, bila hal kecil seperti itu dialami oleh kita mahluk dewasa. Rasanya ketidak berdayaan menghalangi semua impian, bahkan impian terkecil sekalipun.

Dulu, aku membayangkan bertemu seorang pangeran berkuda putih yang gagah, yang bisa menyelamatkan aku dari perompak dan melindungiku dari dinginnya malam. Itu pasti impian semua anak perempuan di dunia ini. Siapa yang tidak ?

Dia, kukenal dalam sempurnanya dan kutemui dalam ketidakberdayaan. Tak ada kuda putih,tak ada pedang, tak ada perisai. Hanya tongkat bambu kecil yang setia menemani langkah kecilnya. Menatapnya, aku sadar, dia tak butuh sayap untuk bisa membawaku terbang.

Dia, kucintai
Meski dia bukan pengeran seperti yang dikisahkan dalam dongeng pengantar tidur anak-anak perempuan

** Menjelang tidur, dalam sendiri aku berbisik “Ya Rabb, terimakasih, telah Kau kirimkan dia dalam hidupku dengan keindahannya sendiri. Ingatkan aku untuk selalu mensyukurinya, Rabb.”

Sempurna

In Me and MySelf on 19 April 2010 at 3:32 am

Kau sempurna, aku rindu
Dan kau hilang tanpa suara, tanpa kata, tanpa bayang, tanpa jejak
Luka tak ku bawa berlari… Aku hanya menepi, berhenti di tepian menunggu
Tak tahu mengapa aku menanti

Kau tahu, tidak ? Aku tak jatuh hati pada gemerlapmu, cemerlangmu, duniamu
Kau datang menyentuhku dengan sujudmu, dengan syukurmu
Kau menundukkan hatiku bahkan aku belum bertemu dengan mu

Terang saja aku cemburu…!! Kau cintai Dia begitu indah

Purnama itu
Dalam temaram membawa bayangmu kembali dalam tak sempurnamu
Kau meragu aku palingkan arah, kau resah aku balikkan langkah

Duhai hati yang mencuri cintaku
Jika sempurna bukan takdirmu, usah gundah
Karena aku pun begitu, tak sempurna seperti dirimu

Kemarilah, dekat kesini… dan dengarkan setiap bait doa yang aku bisikkan pada-Nya

“Wahai Zat Yang Maha Sempurna, izinkan hamba menjadi bagian darinya hingga sempurna hidupnya”

Percakapan khayalan (2)

In Me and MySelf on 19 April 2010 at 3:31 am

- Dinda – “Memiliki aku, kau harus penuhi satu syarat”

- Kanda – “Katakanlah”

- Dinda – “Buatkan aku 1000 candi”

- Kanda – “Akan aku laksanakan karena cinta punya lebih dari 1000 cara”

- Dinda – “Hanya satu malam, sebelum ayam berkokok esok hari”

- Kanda – “Monggo Ndoro Putri”

“Dinda, Tuhan tahu aku berjuang demi cinta yang pernah diamanatkan kepadaku, hingga 70 ribu malaikat diturunkan-Nya untuk membantuku. Jangan khawatir pasti diselesaikan titahmu di 1/3 malam ini”

- pukul 03.14 dini hari -

- Kanda – “Dinda putri, telah dilaksanakan titahmu membuat 1000 candi tepat jam 3 tadi”

Tersenyum dinda dan tertidur pulas…”aku jatuh hati padamu….lagi… dan lagi…karena aku cemburu pada-Nya”

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.