sofamerah

Archive for the ‘Dear Diary’ Category

DIA

In Dear Diary on 28 April 2010 at 3:39 am

Bila kau lihat dia, mungkin kau tak menatapnya lama…
Tapi aku tak bosan memandang dia
Bila kau berpapasan dengannya di suatu tempat, mungkin kau akan mengacuhkannya…
Tapi aku berharap waktu bisa berhenti dan aku bisa terus bersama dengan dia

Tongkat bambu kecil digenggaman kanan memapah tubuh kurus tertatih dalam langkah kecilnya
Awalnya tak sabar langkah ini mendampingi langkahnya
Satu langkah ku berjalan…dia butuh tiga langkah untuk bisa mengejarku

Rasanya ada yang meleleh didada ini

“Adek jalan aja duluan” katanya. Aku tersenyum mendengar kepasrahannya itu. Tentu saja tak ku biarkan dia berjalan sendiri saja dengan bambu kecil itu. Tidak buruk rasanya jalan perlahan-lahan. Setiap langkah rasanya menjadi begitu berarti. Perlahan, tidak terburu-buru seperti biasanya aku melangkah.

Usianya masih begitu muda saat terkena serangan penyakit itu. Empat tahun lalu, jauh disana, dia terkulai dikursi roda selama satu tahun. Tak ada kabar, tak ada berita. Kegagahannya tak berbekas. Yang tersisa hanya tubuh kurus kering, tak berdaya, berjuang keras untuk melangkah walau tertatih, berusaha keras bisa mengangkat tangannya meraih kepala. Aku jadi ingat syarat jadul dari orang tua dulu. “Ma..Ma…sampai Ma” sambil tangan kiri meraih telinga kanan. Artinya sudah bisa masuk sekolah, sudah besar.

Dia, memulai semua dari awal lagi. Sedikit lagi tangan kirinya bisa mencapai telinga kanan. Dan itu artinya dia bisa naik tingkat. Lucu ya, bila hal kecil seperti itu dialami oleh kita mahluk dewasa. Rasanya ketidak berdayaan menghalangi semua impian, bahkan impian terkecil sekalipun.

Dulu, aku membayangkan bertemu seorang pangeran berkuda putih yang gagah, yang bisa menyelamatkan aku dari perompak dan melindungiku dari dinginnya malam. Itu pasti impian semua anak perempuan di dunia ini. Siapa yang tidak ?

Dia, kukenal dalam sempurnanya dan kutemui dalam ketidakberdayaan. Tak ada kuda putih,tak ada pedang, tak ada perisai. Hanya tongkat bambu kecil yang setia menemani langkah kecilnya. Menatapnya, aku sadar, dia tak butuh sayap untuk bisa membawaku terbang.

Dia, kucintai
Meski dia bukan pengeran seperti yang dikisahkan dalam dongeng pengantar tidur anak-anak perempuan

** Menjelang tidur, dalam sendiri aku berbisik “Ya Rabb, terimakasih, telah Kau kirimkan dia dalam hidupku dengan keindahannya sendiri. Ingatkan aku untuk selalu mensyukurinya, Rabb.”

Apa pantas berharap cinta

In Dear Diary on 18 February 2010 at 7:00 am

Kau sudah katakan…”Tak kan kuberi cobaan kecuali sesuai dengan kemampuan hamba-Ku”

Tapi selalu saja aku bertanya “Kenapa Tuhan…kenapa begini…?”

Aku tahu Kau selalu mendengarkan karena Kau Maha Mendengar
Tapi aku…
Mengeluh saja yang aku bisa

Kemarin aku tak bisa menemukan apa yang aku cari, padahal aku sangat membutuhkannya untuk hari ini … aku mengeluh … “Tuhan, aku harus bagaimana lagi. Aku lelah mencari…!!”

Hari ini pekerjaanku begitu sibuknya hingga tak sempat aku bersenda gurau dengan sahabat…aku mengeluh…”Tuhan, kenapa berat sekali hari ini…!!”

Terfikir olehku perjalanan pulang hari ini, terbayang padatnya jalanan sore nanti, padahal aku ada temu janji karena temanku merayakan lahirnya…aku mengeluh…”Ya ampun, tiap hari harus macet-macet…tua dijalan…be-te banget…!!”

Aku mengeluh…atas apa yang terjadi kemarin
Aku mengeluh…untuk yang kulalui hari ini
Aku mengeluh…untuk hal yang bahkan belum terjadi

Tuhan…Kau tak pernah mengeluh jika aku jauh dari Mu
Kau tak pernah mengeluh jika aku lupa pada Mu

Kau beri aku hari yang indah saat bangun pagi tadi…udara sejuk…sinar matahari…suara alam
Kau beri aku sahabat yang indah…menghiburku…mendengarkanku…tersenyum padaku
Kau beri aku nikmat melewati sisa hari ini…

Nikmat mana yang pantas aku dustai, Tuhan…??
Apa pantas aku terus mengeluh…??
Apa pantas aku berharap cinta Mu…??

….

..
.
Tuhan…ampuni aku, cintai aku…
Kumohon terimalah taubatku…
Selain pada Mu…pada siapa aku memohon

HATI INI INGIN BERTERIAK AGAR KAU DENGAR….
TAPI…
KAU PASTI BISA MENDENGARKU WALAU AKU BERBISIK DIANTARA TANGISKU HARI INI
senin, 07-07-09

Kutemukan secarik kertas…

In Dear Diary on 18 February 2010 at 6:59 am

Disini…diantara lembaran usang yang menguning…yang aku pun lupa

Kadang aku berfikir … aku tak mau berfikir

Sering aku katakan … jangan ucapkan satu kata pun

Dalam diam aku berbisik….ssst…biarkan hening

Hujan tadi singgah
Sejuk masih ingin tinggal
Sepi bahkan terus menetap..tak mau pulang
Disini rumahku, katanya
Padamu kembaliku, teriaknya
Aku tak kan pernah meninggalkanmu, sumpahnya

Tapi
Aku ingin riuh
Aku ingin ramai

Bagaimana denganmu, Sepi ?

5 juni 2007
15:00

Keu

Buku Kafe – Margonda

Mama bilang…

In Dear Diary on 18 February 2010 at 6:56 am

Mama bilang begini…. “aku idamkan kelahiranmu, putri mungilku….memenuhi kerinduanku pada tangisan dan sejejer popok dijemuranku”.
Disinilah aku kini, merindu…

Mama bilang begini…. “pergilah jauh, sejauh kamu mau dan mampu…lihatlah dunia diluar sana…jangan terpaku disini”.
Disinilah aku kini, merindu…

Mama bilang begini….”kalau kamu sedang tak disibukkan dengan duniamu, matahatiku….sibukkanlah fikiranmu…hatimu…lidahmu…dengan tasbih, tahmid, tahlil, takbir….aku tak bisa wariskan padamu kecuali nasihat ini”.
Disinilah aku kini, merindu…

Mama bilang begini….”kalau aku pergi, jangan menangis ya, intan permataku”.
Dan aku hanya bisa berdiri disini, merindu…

warisan termegah yang aku miliki

…(tak ada judul)

In Dear Diary on 18 February 2010 at 6:50 am

setahun…
aku menunggumu

sebulan…
aku merindumu

seminggu…
aku mengenalmu

sehari…
aku melihatmu

sejam…
aku…

semenit…
hhh….

sedetik…
aku benci kamu

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.